Tampilkan postingan dengan label Bola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bola. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2011

Sepak Bola adalah Agama

setelah lama ga muncul, saya akhirnya blogging lagi.
kali ini isinya artikel kecil-kecilan saya mengenai sepakbola sebagai agama.
mari dinikmati.

mohon kritiknya ya :)

Selasa, 19 April 2011

#14

"Memang aneh sepakbola Indonesia, banyak orang-orang bilang ga ada uang ga menang"
 (lagu suporter di Indonesia)
Kental! Sepakbola di Indonesia kental sekali dengan bau uang. Apa-apa dinilai uang. Bukan tentang industrialisasi liga dan badan sepakbola lho. Saya bicara uang di sepakbola Indonesia ini kaitannya dengan kemenangan. Sudah tidak rahasia lagi, kemenangan partai kandang selalu jadi incaran wasit-wasit kotor dengan embel-embel diberi "uang saku" oleh tim tuan rumah jika memberikan gol yang berbau offside dan pinalti. Tidak sesederhana itu, masih ada lagi bau uang ketika tim tuan rumah memesan kartu baik kuning maupun merah di pertandingan lain -yang tentunya akan jadi musuhnya di paartai berikutnya-, atau pemesanan selisih gol -tim kami boleh kalah, tapi jangan biarkan kalah terlalu besar demi selisih gol-, atau lagi yang lebih parah memesan tempat di 8 besar. GILA!

Lalu kami suporter bisa apa? Demo sudah diturunkan di jalan-jalan dalam skala besar maupun kecil, pemerintah sudah turun tangan mencampuri federasi, bahkan badan tertinggi sepakbola dunia sudah mengintervensi. Tapi apa, prakteknya masih berjalan. Suporter sudah hilang akal, yang ada tinggal umpatan dan protes. Di lapangan kami hanya bisa mendukung tim sambil mengumpat pada tim lawan dan memprotes keputusan wasit lewat nyanyian kami di tribun. Suporter sudah lelah, tapi tidak berhenti.
kami hanya bisa membelakangi lapangan
sebagai bentuk protes permainan yang tidak lagi adil

Minggu, 27 Maret 2011

#13

"Masih berapa uangmu? Ini tambahan buat makan." (Andri Jangkung, dalam perjalanan pulang tur tandang)

Sedikit sekali suporter yang membawa uang lebih ketika tur ke kandang lawan. Lumrah sekali karena sebagian besar suporter adalah buruh yang bayarannya tidak seberapa besar, tapi dipaksa oleh keadaan untuk menghadiri partai tandang dan kandang yang jadwalnya sangatlah mepet. Otomatis sebagian besar suporter hanya membawa uang pas, itu saja kadang hanya pas untuk berangkat dan tiket masuk. Sisanya? Serahkan pada nasib baik.

Jadwal tur yang padat memaksa suporter harus membagi-bagi uangnya dalam plot-plot yang jelas, agar bisa sebanyak mungkin menghadiri partai tandang timnya. Sebenarnya tidak ada paksaan untuk ini, tapi yah bagaimana lagi, kalau sudah cinta ya susah untuk tidak hadir di semua pertandingan. Hutang sudah jadi solusi pas untuk para suporter, tapi ada beberapa yang memilih bermodalkan nekat, asalkan bisa sampai tujuan, pulang pasti bisa dipikirkan.

Satu hari, dalam perjalanan pulang tur, sisa uang tinggal Rp 5.000,00. Dengan catatan belum makan sedari berangkat, alias sedari malam. Padahal posisinya adalah dalam perjalanan pulang dari pertandingan tandang yang artinya lagi adalah badan sudah lelah dan butuh tenaga. Untuk makan di pinggir jalan, susah sekali mendapatkan warung makan yang murah. Tapi beruntunglah kamu memiliki teman sekelompokmu, yang sama-sama mengerti menjadi suporter, merasakan kesusahan yang sama. Jika nasib baik berpihak padamu, makan dalam perjalanan pulang kamu akan dibayari atau paling tidak akan dibayarkan kekurangan uangmu. Ya begitulah sepakbola, seperti komunikasi tanpa bahasa, tiap orang yang terlibat di dalamnya mampu memiliki rasa yang sama. Kamu tidak usah bilang kamu lapar, kawan sekelompok suportermu sudah tau dan tidak akan melupakanmu.

Kelompok suporter bagi saya dapat berarti pula keluarga yang mampu saya pilih. Yang saling mengerti, paham satu sama lain dan tidak akan melupakanmu, berdiri di sebelahmu dalam pertempuran untuk saling melindungi.

#12

A: "Jadi ikut tur ga kamu nanti malem?"
B: "Kepastiannya nanti malem ya, kalo gaji jadi turun, aku ikut berangkat."
(nukilan pesan singkat dari seorang kawan)

Hidup menjadi suporter sebenarnya adalah pekerjaan paling boros di dunia selama sejarah kesibukan manusia. Untuk mengikuti partai kandang saja, harus merogoh uang yang cukup banyak, bukan dalam skala uang jajan harian, melainkan harus menabung terlebih dahulu. Maka dari itu perlu bagi suporter untuk memiliki catatan jadwal pertandingan. Ini baru partai kandang, belum lagi partai tandang yang biayanya berlipat-lipat banyaknya ketimbang partai kandang. Sudah membayar tiket masuk pun kamu bisa-bisa tidak melihat pertandingannya karena asik menyanyi dukungan untuk tim.

Besarnya estimasi biaya (kandang maupun tandang) sebenarnya dapat memacu suporter untuk bekerja giat, ya walaupun hasil keringat akan segera habis untuk membeli tiket dan biaya perjalanan. Menjadi suporter adalah pilihan yang salah bagi mereka yang ingin kaya. Dalam opini saya, sepakbola dan tim adalah kebanggaan yang tak terbayarkan berapapun nilainya. Maka tidak heran jika suporter banyak berasal dari kalangan kelas pekerja. Bukan pekerja yang merangkap menjadi suporter, tapi suporter yang terpaksa merangkap menjadi pekerja.

Pernah muncul pertanyaan, "oh ternyata kamu kerja juga toh? saya kira kerjaannya cuma nonton bola." WTF! Pertama, saya tidak nonton bola, saya datang mendukung tim saya. Kedua, kamu kira saya dibayar untuk datang ke stadion, atau masuk stadion adalah gratis, atau kamu kira kebanggaan adalah lahan mencari uang? Ya, sepakbola dan tim yang kamu banggakan tidak untuk mengais uang, memutuskan hidup untuk menjadi suporter sama dengan memutuskan untuk hidup merugi. Jadi adalah haram untuk mencari uang lewat tim yang kamu bela. Kecuali kamu adalah pemain, maka kami akan rela membayar demi menyanyikan lagu-lagu dukungan padamu di stadion.

Menjadi suporter adalah perkara rela dan dengan ikhlas membuang uangmu, demi tim, demi tiket, demi kebanggaan yang kamu dengungkan tiap waktu. Bukan untuk mencemplungkan diri ke dalam lahan basah yang bisa kamu keruk uangnya. Dan kalau kamu melakukan itu dan aku tau, kamu kuharamkan! :D

(sedikit random setelah lama tidak posting :D)

Sabtu, 05 Februari 2011

#11

"hahaha, sepatumu KW berapa mas?" (ejekan yang selalu ada dari kami untuk tim musuh setiap sebelum pertandingan)

Kami para suporter tidak pernah bisa melewatkan matchday. H-1 matchday selalu dipenuhi dengan jantung berdebar dan insomnia. Tidak hanya satu-dua orang, tapi sebagian besar suporter sebuah tim pasti akan kesulitan tidur menjelang matchday. Bagaimana tidak, kebanggaannya akan berlaga. Dan perasaan tidak ingin melewatkan pertandingan ini memupuk detak jantung.

Insomnia ini masih dilanjutkan dengan perasaan tidak sabar untuk datang sesegera mungkin di stadion. 3 jam sebelum pertandingan dimulai kami sudah hadir, menyiapkan banner dan bendera kami sebagai alat bantu kami mendukung tim. Lengkap dengan perkusinya. Semangat ini yang terus kami pupuk, kami tidak ingin meremehkan matchday dengan datang bermalas-malasan. Kami ingin menghargai pahlawan kami yang bertarung dengan sekuat tenaga di lapangan hijau. Kami ingin ada sebelum mereka memasuki area pertarungan, sambil memutar botol alkohol sebagai asupan energi dalam menyanyi nanti.

Kedatangan awal kami tidak hanya mempersiapkan alat-alat. Ada tujuan lain, yaitu teror terhadap tim lawan. Ada kebiasaan untuk tim lawan agar lebih dulu pemanasan di lapangan sementara tim kami masih melakukan briefing di ruang ganti. Pada waktu inilah kami melakukan ejekan-ejekan pada tim lawan. Dibilang rasis kami tidak peduli. Kami rasis pada tim yang melawan tim kami saat itu. Semua tim, tidak terkecuali. Dunia akan mengecap kami suporter yang buruk, tapi kami tidak peduli. Apapun demi kemenangan tim.

Ejekan di awal pertandingan tidak akan berlangsung lama, hanya sebelum pemain kami memasuki lapangan untuk pemanasan. Begitu pemain kami masuk, ejekan pada tim lawan langsung berubah menjadi nanyian dukungan untuk tim yang kami banggakan. Kami sudah tidak peduli sama sekali dengan lawan kami. Yang ada di pikiran kami hanyalah dukungan untuk tim dan harapan akan kemenangan.

dengan api, kita buat neraka bagi tim lawan.
dengan api, kita buat sambutan bagi tim yang kita banggakan

Kamis, 27 Januari 2011

#10

Pemain lawan : "pak, penalty pak.."
Wasit: "iya-iya..tunggu.."
(cuplikan dialog pertandingan tandang)

Seorang pemain tim datang ke markas kami, markas suporter usai pertandingan tandang. Ini adalah lawatannya yang pertama. Apresiasi ini kami dapat karena apresiasi kami juga terhadap striker ini, karena ketajaman dan kedekatannya pada suporter. Kami memujanya bak dewa, kami nyanyikan lagu pujian di lapangan. Kedatangan ini adalah bentuk penghargaan terhadap kami sendiri selain dari kemenangan di pertandingan.

Cerita bergulir seperti obrolan layaknya teman, terasa dekat. Sampai dia membeberkan obrolan antara pemain tim lawan dengan wasit saat pertandingan tandang kemarin. Salah satu dewa yang kami puja ini mendengar sendiri pemain lawan berbisik pada wasit. Posisi di kandang lawan, skor 1-1. Sudah sangat baik untuk pertandingan tandang. Pemain lawan menekan terus di kotak penalty, menginginkan tendangan 12 pas. Akhirnay tidak terjadi yang kami takutkan itu, namun gol tercipta dengan jelas-jelas posisi offside pada waktu injury time sudah melebihi batas.

Biasa memang. Sungguh biasa. Kami tidak kecewa. Kami tetap bangga pada tim kami yang dengan gigih mampu melawan tim musuh 90 menit tanpa lelah. Kami sadar, kami ada di dalam lingkaran manipulasi federasi. Pengaturan kemenangan yang sangat memuakkan. Muncul pula wacana, jika kami mendukung tim yang bernanung di bawah federasi yang busuk, maka kami ikut mendukung federasi yang busuk itu. Kebimbangan, di satu sisi kami menolak federasi yang gagal menyuguhkan sepakbola sehat, di satu sisi kami tidak bisa lepas mendukung tim yang kami banggakan.
Wacana kebingungan malang melintang di markas suporter, bagaimana harus bertindak. Apakah tetap mendukung tim di bawah federasi kotor, atau berhenti dan merelakan kecintaan. Sampai seorang teman yang pendiam angkat bicara. Tidak peduli apakah federasi ikut terdukung ketika kita mendukung tim yang kita cintai. Kita tetap mendukung tim dengan keadaan apapun. Kecintaan tidak pernah bisa dibendung. Dan tidak pernah butuh alasan, cinta tetap cinta.
tetap bernyanyi dan berdiri,
kemenangan berpihak pada jiwa yang berani

Minggu, 16 Januari 2011

#9

Selama ada niat, bagaimanapun caranya kamu akan datang ke stadion (Aditio Chrisnugroho)

Awal tahun benar-benar menjadi hidup yang sibuk. Bukan karena jadwal ujian yang tertunda, tapi karena jadwal pertandingan sepakbola. Partai kandang tidak dianggap menjadi masalah, namun 2 partai tandang dalam satu minggu dan 1 partai tandang lagi pada minggu berikutnya adalah hal yang berat sebenarnya. Masalah utama masih klasik seperti masalah semua orang di dunia, dana. Partai tandang dipenuhi dengan anggaran lebih untuk perjalanan. Mau tidak mau, harus ada pengorbanan lebih pada partai tandang. Selain dana, meluangkan waktu juga menjadi pikiran dalam menghadiri partai kandang. Sebenarnya naif jika berbicara pengorbanan, semua orang punya pengorbanannya sendiri-sendiri untuk menghadiri partai tandang.

Partai tandang pertama tahun ini, keuangan sedang mencekik. Kelompok suporter saya merencanakan berangkat menggunakan bus sewaan. Dan dananya tidak kecil bagi keuangan saya yang mencekik. Terpaksalah saya berhutang uang demi menghadiri partai tandang. Hasilnya kami kalah 2-0, dengan keputusan wasit yang paling mencengangkan sepanjang pertandingan. Gila. Wasit gila. Gila uang. Keputusan yang diambil oleh wasit benar-benar tidak menguntungkan tim kesayangan saya. Tapi ya sudahlah, memang seperti itu partai tandang. Sudah biasa. Dan kami bernyanyi 2x45 menit. Benar-benar 2x45 menit. Tanpa henti.

Tandang kedua tidak jauh beda. Menggunakan bus sewaan lagi, namun dengan biaya yang lebih besar. Saya diharuskan untuk berhutang lagi, tapi tidak mungkin, saya takut tidak terbayar. Hutang saya sudah terlalu banyak. Tapi saya ingin berangkat. Sungguh ingin. Dompet saya tidak ada isinya. Pikiran saya masih berputar-putar ingin menghadiri partai kandang kedua tahun ini. Sampai seorang teman mengajak saya, "pokoknya asal kamu berangkat dululah." Pukul 03.00 kami semua sudah berkumpul untuk berangkat menghadiri partai tandang ini. Saya sempat pulang terlebih dahulu untuk mengecek keuangan saya di rumah, namun nihil. Saya terpaksa berangkat tanpa membawa sepeser uang pun.

Tandang kedua ini tidak bisa saya lewatkan, tahun kemarin saya juga menghadiri partai ini dengan tanpa uang pula. Apalagi suporter tuan rumah terkenal suka bikin onar. Kami sebagai suporter tertantang untuk memberi dukungan nyata bagi tim. Menemani tim dalam lawatan ke luar kota. Dan terjawab, tim tuan rumah mencetak gol pertama, hujan batu dan botol mewarnai lagu-lagu kami. Lempar-lemparan terpaksa dilakukan, bukan apa-apa, tapi kami tidak mau tertahan dengan berdiam diri. Apalagi setelah tim kami mampu menyamakan kedudukan. Semakin panas saja. Dalam benak kami semua, 1 poin sudah cukup untuk partai tandang. Kami bernyanyi semakin keras agar tim juga bersemangat menyelesaikan pertandingan. Sampai akhirnya gol kedua tuan rumah dicetak. Kami tertegun sejenak, sampai lemparan batu mencairkan lamunan kami. Kembali kami harus lempar-lemparan batu. Kami tidak tau kenapa, tapi ini harus terjadi. Sebagai pembelaan diri kami. Kami menolak dibantai di kandang lawan. Keadaan semakin panas sampai kami semua terpaksa diungsikan masuk ke lapangan dan pulang dengan kawalan polisi. Kalah lagi, kali ini 2-1. Tapi kebanggaan kami tidak berkurang sedikitpun pada tim. 

Kami masih bangga, saya masih bangga menjadi bagian dari pendukung tim ini. tim yang tidak besar, namun saya mencintainya. Uang tidak menghalangi kami untuk datang. Waktu seakan tidak terbatas untuk kami bernyanyi mendukung tim yang kami banggakan.

Selasa, 04 Januari 2011

#8

We're not a Movie Stars (PGWear, clothing company internasional bagi suporter)

Sepakbola sedang menjadi sorotan di Indonesia. AFF lah penyebabnya. Penuh gebrakan dalam kompetisi Asia Tenggara kali ini. Pertama, Indonesia menjadi tuan rumahnya, otomatis sekali akan dekat bagi rakyat Indonesia untuk menonton pertandingan sepakbola. Kedua, pertandingan pertama bagi Indonesia adalah melawan Malaysia. Berhenti dulu sampai sini. Partai pertama yang sangat ditunggu-tunggu ditambah dengan pertandingan yang digelar di kandang sendiri. Tak heran animo masyarakat meledak-ledak. Apalagi ditambah dengan kemenangan besar di babak awal.

Berita demi berita tentang kemenangan timnas Indonesia terus saja diputar di segala media. Akibatnya, banyak masyarakat yang semula apatis dengan sepakbola Indonesia mulai melirikkan matanya untuk menengok prestasi timnas. Alasannya bukan hanya satu, saya menyoroti dua saja. Pertama, Indonesia beserta rakyatnya sudah rindu gelar dan kemenangan, dan kemenangan besar atas Malaysia di pertandingan pertama mengangkat derajat timnas Indonesia lantaran Malaysia juga erupakan musuh politik dan budaya bagi Indonesia. Alasan kedua karena masuknya pemain baru yang handal dan tampan, mengangkat imej timnas semakin baik di mata masyarakat.

Sorotan publik banyak diarahkan pada timnas dan suporter yang datang mendukung dalam pertandingan di Gelora Bung Karno. Media seakan hanya punya satu tujuan berita kala itu. Timnas dan suporter. Hal ini ternyata tidak hanya menjadi hal hingar bingar di Indonesia, di belakangnya, pelatih timnas Alfred Riedl muring-muring. Anah asuhnya kekurangan waktu untuk latian dan istirahat akibat besarnya arahan kamera pada timnas. Belum lagi ekspektasi besar dari masyarakat agar timnas menjuarai AFF. Suporter-suporter juga ramai diwawancarai di televisi. Ramai-ramai nongol di media. Beradu eksistensi.

Ribuan masyarakat mendadak mengaku jadi suporter timnas, padahal banyak di antara mereka yang belum pernah jadi suporter di tanahnya sendiri, belum pernah mencicipi dunia suporter bagi tim lokalnya. Suporter yang tiap tahun mendukung di GBK jadi tersingkir. tersingkirkan oleh suporter dadakan yang berdandan sebelum masuk ke stadion. Suporter-suporter lama yang setia mendukung dari jaman Indonesia belum menangan jadi tersingkir. Stadion GBK penuh artis, plus penuh orang sok ngartis.

Hey, ini sepakbola. Tidak butuh orang yang mendadak mengaku peduli. Sepakbola tidak butuh media massa. Sepakbola tidak butuh kegiatan politis, sepakbola bukan tempat hang out. Kamu tampan, kamu kaya, kamu keren, tidak berlaku dalam sepakbola. Sepakbola pada dasarnya adalah pertarungan. Dan tidak perlu muncul acap kali di televisi, tidak perlu orang-orang semua tau kamu menonton di stadion. Sepakbola hanya butuh teriakan dukungan dari suporter kepada tim yang mereka banggakan.
tidak perlu tau siapa saya, siapa anda, siapa kita, siapa mereka.
suporter hanya butuh berteriak, bernyanyi bagi tim kebanggaan

Sabtu, 04 Desember 2010

#7

Saat kita bernyanyi di atas tribun, saat kita berjingkrak pula, sebenarnya kita tau bahwa kita berhadapan dengan kelelahan. Tapi itulah cara kita menjawab kenikmatan dalam kesetiaan.

Sudah sering saya singgung sebelumnya, menjadi supporter yang utama bagi saya adalah perkara tidak berhenti bernyanyi. Bernyanyi 2 x 45 menit saja bagi saya sendiri sudah sangat menyita tenaga. Belum lagi ditambah ekspresi berjingkrak di atas tribun seperti kesetanan, tentu saja tenaga sungguh tersedot dan membuat kaki ini serasa mau copot. Kelelahan ini belum lagi ditambah dengan sesaknya nafas ketika mulai dinyalakannya flare dan bom asap sebagai bentuk perayaan betapa sakralnya pertandingan tim yang kita cintai. Ada perasaan ingin duduk dan menikmati pertandingan, namun perasaan itu selalu terbunuh begitu saja.

Nyanyian-nyanyian, gerakan tak berpola dan seenaknya, aksi bakar-bakaran ini selalu menimbulkan pertanyaan bagi orang di luar dunia supporter. Seringkali muncul kalimat, "Kenapa sih kalian gila gitu?" atau "Ga bisa ya biasa aja nonton bola?" atau lagi "Udah wajar kok, supporter kan emang norak, kampungan." Pertanyaan-pertanyaan seputar ketidaktauan itu tentu saja selalu ditanggapi dingin oleh supporter. Bagi yang hanya melihat, pasti tidak bisa tau dan tidak bisa merasakan bagaimana supporter itu berperilaku. Saya sendiri sebagai supporter kadang sulit menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Bagi saya, saya tidak begitu peduli dengan omongan apapun tentang supporter, ya beginilah kami. Kami adalah bagian dari subkultur, yang memang keluar dari pakem-pakem sosial. Semua yang kami lakukan ini adalah jawaban kami atas kenikmatan kami mendukung tim, atas kesetiaan kami dalam mengawal tim kami bertanding.

Senin, 01 November 2010

#6

tidak pernah saya bosan menantikan gol dari klub yang saya cintai ke gawang lawan. karena bukan tentang peluang, kemampuan dan prosesnya adalah hasil dari kerja keras pemain kami. sedangkan gol yang biasa disebut orang lain kebetulan sebenarnya adalah hasil dari hasrat yang menggebu-gebu untuk menang. suara saya dan kawan satu kelompok hanyalah bagian kecil dari kemenangan yang selalu saya nantikan.

 

Apa yang kita tunggu dari pertandingan sepakbola? Tentu saja kemenangan. Bagai dua koin mata uang, kemenangan dan gol tidak dapat dipisahkan. Para pemain sepakbola tidak begitu saja mendapat nilai kontraknya, butuh sebuah pembuktian untuk mencapai itu dan pembuktian paling mudah adalah gol, maka tak heran jika pemain terbaik dunia kebanyakan datang dari posisi penyerang. Meskipun begitu, tidak melulu penyerang yang penting, pemain bertahan juga sama pentingnya dalam sebuah tim, karena ia bertugas menghalau datangnya bola dan terciptanya gol untuk tim.

Gol dan gol, itulah inti dari sepakbola. Dan saya menggarisbawahi satu hal tentang kemenangan dan kebanggaan yaitu sejarah. Seringkali suporter ditanya mengapa mereka bersikukuh mendukung tim yang bahkan seringkali sangat jarang menang. Jawaban paling sederhana untuk pertanyaan ini adalah sejarah. Bagi suporter tim langganan juara, tentu saja ada kebanggaan jika mampu mempertahankan gelar juara atau menyabet juara lagi setelah lepas satu atau dua musim. Bagi suporter yang timnya belum pernah juara atau malah sering kalah, tentu saja berambisi untuk menjadi bagian dari sejarah kejayaan klub. Sejarah, dan ini mutlak.

Seorang pemain yang sudah tua sekalipun masih dapat bertahan di sebuah klub karena sejarah yang diukirnya dulu, bahkan setelah pensiun ia masi saja dapat menjadi bagian dari tim entah itu pelatih atau manajer tim. Dan Sejarah ini tidak datang begitu saja. Sejarah lahir lewat perjuangan, lewat kerja keras dalam latihan setiap hari, lewat tetes keringat di lapangan, lewat kaki yang terus saja berlari. Dan semangat-semangat pantang menyerah ini yang membuat suporter bertahan untuk memberikan dukungannya.

Semua bicara tentang kerja keras, tidak ada kebetulan dalam sepakbola. Jika kamu melihat gol yang tidak sengaja tercipta di highlight sepakbola dunia, itu bukanlah sebuah kebetulan. Ketidaksengajaan mungkin benar, namun ada alasan dibalik itu semua, ada alasan mengapa seorang pemain melakukan aksinya di lapangan hingga tercipta gol yang menurut orang-orang tidak sengaja. Ada hasrat yang menggebu-gebu untuk menang, ada kemauan yang keras untuk mendapat bola dalam posisi yang pas untuk menendang, dan semua itu yang membuat kadang seorang pemain dinilai kebetulan dalam mendapat bola.

Kerja keras dan hasrat ini yang kami hargai. Maka tak heran kelompok suporter rela datang sore hari ke stadion klub mereka, menonton untuk menonton sesi latihan, karena gol yang tercipta di pertandingan adalah bayaran yang pas untuk kerja keras setiap hari.

Jumat, 22 Oktober 2010

#5

tidak mengapa saya berdiri berhujan-hujan. tidak mengapa saya berteriak sampai saya serak. tidak mengapa saya selalu berharap, dengan tatapan cemas tidak kunjung datang sebuah gol, dengan pandangan getir ketika lawan memasuki area pertahanan klub yang saya cintai. tidak mengapa banyak orang berpikir saya bodoh. tidak mengapa, karena saya punya alasan. klub yang saya cintailah di bawah semua itu.

 

Sepakbola telah menyihir saya. Saya pernah tidak bisa tidur karena sudah tidak sabar untuk hadir di pertandingan kandang, pun saya pernah tidak tidur karena klub yang saya cintai terancam degradasi ketika liga hanya menyisakan dua pertandingan terakhir. Saya rela berdiri sepanjang pertandingan, saya dengan tanpa paksaan bernyanyi, bahkan kadang melihat pertandingan pun tidak. Sepakbola membuat saya masih berdiri di kurva belakang gawang sementara hujan dengan deras turun.

Sepakbola bisa saja membuat saya terdiam beberapa detik ketika gawang klub yang saya cintai terancam kemasukan gol, setelahnya saya bisa saja berteriak kegirangan berlari tak tentu arah merayakan pemain kami mencetak gol untuk klub. Membuang uang untuk sebisa mungkin hadir di tiap pertandingan. Mempersiapkan banyak flare dan bom asap sebagai perayaan pertandingan, begitu pula dengan berpack-pack roll kertas yang dengan segera kami lempar ke lapangan.

Waktu, uang, dan tenaga menjadi pengorbanan besar kami. Banyak orang memandang kami menyia-nyiakan semua itu. Tapi kami masih saja tidak peduli, kami masih menjalani kehidupan yang sebelumnya kami jalani. Kami memang tidak dapat dimengerti, kami tak ingin dimengerti oleh yang bukan bagian dari kami. Kebanggaan kami, rasa cinta, ya ini rasa cinta kami.

#4

menjadi pendukung klub sepakbola bagi saya adalah perkara nyanyian keras dan lantang tentang kecintaan pada klub. saya kurang peduli pada perkara perkelahian antar kelompok.

 

Sepakbola bukanlah satu hal yang penuh kelembutan, ia tidak dapat dipisahkan dari kekerasan, dari keributan. Sepakbola adalah satu hal yang memiliki aroma khas perjuangan. Pertarungan untuk satu kemenangan. Sepakbola dan semua hal di dalamnya yang bersinggungan adalah bagian dari gambaran manusia yang kompleks, yang tidak berbatas dikotomi baik-buruk, benar-salah, kaya-miskin, dan dikotomi-dikotomi membosankan lainnya. Kompleksitas dan kumpulan manusia dalam wadah yang tidak berbatas ini tentunya menimbulkan banyak perselisihan, apapun sebabnya.

Ya, memang begitulah sepakbola. Para pemain bisa saja menjegal lawannya dengan keras, Suporter bisa saja berteriak dengan lantang. Kekerasan antar pendukung klub bisa saja terjadi, tentunya terjadi karena semangat rivalitas, karena memperjuangkan kemenangan klub. Adalah hal yang wajar jika suporter tim yang kalah marah dan mengamuk -entah pada siapa atau apa-. 

Kekerasan dalam sepakbola terjadi begitu saja, bukan kekerasan yang harus disengaja untuk terjadi. Kekerasan dalam sepakbola adalah resiko yang tidak dicari, melainkan dihadapi jika sesungguhnya terjadi. Lalu buat apa menyibukkan diri untuk mencari keributan? Hal terpenting  dalam menjadi suporter masih saja perkara berdiri dan nyanyian lantang, bukan untuk sengaja mencari pertarungan. Kemenangan kelompok suporter tidak berimbas pada klub yang didukungnya.

Kekerasan adalah hal yang harus dihadapi, bukan untuk dicari-cari dengan alasan siapa yang terhebat.

Minggu, 17 Oktober 2010

#3

pernah saya berpikir bagaimana bisa pergi untuk menonton pertandingan tandang besok. saat itu uang saya tinggal 1 lembar. saya lalu berhenti berpikir, makan dengan uang 1 lembar tersebut. besoknya saya hadir di pertandingan tandang tanpa uang.

 

Jauh hari sebelum pertandingan tandang kawan-kawan saya sudah memenuhi obrolan mereka baik di dunia nyata maupun di dunia maya dengan pembahasan rencana keberangkatan kelompok kami. Pikiran saya pun telah penuh dengan keinginan untuk berangkat. Sampai pada malam hari sebelum keberangkatan esok, uang di dompet saya tidak bertambah, hanya satu lembar uang untuk sekali makan. Yah, pikiran saya sudah mulai bergerak untuk merelakan pertandingan tandang esok hari. Tidak ambil pusing lagi, saya berangkat makan sebagai pengantar tidur, sekaligus bersiap mengantar keberangkatan kawan-kawan saya besok. 

Pagi hari, senior saya di kampus sekaligus senior saya dalam kelompok suporter ini membangunkan saya, bertanya apakah saya akan berangkat ke pertandingan tandang atau tidak. Dengan rasa malas saya terpaksa menjawab, "tidak". Saya tidak punya uang lagi dan memang seperti itu keadaannya. Spontan saja dia menjawab, "suporter bukan masalah kaya dan miskin, tapi kemauan dan ketidakmauan, ayo !" Dia segera mengambil jaket saya, jaket kelompok kami dan mengangkat saya untuk segera berangkat. Lima jam setelah itu, saya sudah berada di pertandingan kandang untuk bernyanyi mendukung klub. 

#2

saya suka berdiri untuk waktu yang lama. saya suka berteriak hingga suara saya serak. kelelahan bukan alasan saya untuk berhenti. saya menyukai cara-cara ini. saya suka berkumpul bersama kawan-kawan saya untuk bernyanyi lagu-lagu cinta. lagu cinta kami pada klub yang kami banggakan.

 

Ya, manusia berkumpul dan membentuk komunitas sebagai bentuk makhluk sosial. Pada kenyataanya manusia berkumpul karena kesamaan, entah kesamaan hobi, atau ideologi, atau kesamaan apapun. Dan dalam tataran saya, beginilah yang saya jalani sebagai seorang suporter. Kami memiliki kesamaan dalam hobi menonton pertandingan, kami memiliki kesamaan ideologi kami menjadi seorang ultra, kami memiliki kecintaan yang sama akan klub kami.

Sudah menjadi kesepakatan kami bersama untuk berdiri dan bernyanyi 2x45 menit. Berdiri sebagai penghormatan kami pada para pemain yang berlari di lapangan untuk sebuah kemenangan. Bernyanyi sebagai bentuk dukungan kami yang paling nyata terhadap klub selama klub kami bertanding. Tetapi tidak berhenti sampai di situ, perkara kecintaan pada klub tidak dapat dinyatakan dalam 2x45 menit selama pertandingan saja. Kami adalah suporter bola dan masih tetap menjadi itu pada keseharian kami. Maka tak heran kami berkumpul, orang awam menyebut kami membuang waktu. Kami berkumpul untuk bernyanyi bersama, menyanyikan lagu-lagu yang kami buat sebagai bentuk apresiasi rasa cinta kami untuk klub.

#1

saya bukan seorang penyuka kerusuhan, pun saya bukan pecinta damai. tapi saya suka bertarung, bertarung demi klub yang saya cintai, bertarung melawan rasa lelah saat berdiri dan bernyanyi - saat bertandang ke kota lain. saya suka berteriak, meneriakkan dukungan untuk klub kebanggaan. saya lakukan apa yang bisa saya lakukan untuk sebuah kehormatan dan harapan akan kejayaan.

 

Sampai hari ini saya masih heran dengan kata-kata "jangan anarkis, majukan sepakbola Indonesia." Banyak orang menyerukan kalimat itu, katanya demi kemajuan sepakbola. Saya masih menebak-nebak seperti apa jalan pikiran mereka yang meneriakkan itu. Apakah mereka tidak pernah menengok sepakbola luar negeri? Sudah banyak film baik dokumenter maupun semi-dokumenter yang mengangkat tema persepakbolaan. Dan hasilnya tidak pernah tentang kedamaian. Ada Hooligan, Ultras, Barrabravas, Rooligan, dan masih banyak lagi tipikal suporter sepakbola di dunia, dan dari semua itu, tidak pernah luput dari kasus kekerasan. Inggris dengan Hooligannya menjadi negara dengan klub-klub sepakbola besar, Italy dengan Ultrasnya mampu menjuarai piala dunia, negara-negara Eropa Utara dengan Rooligannya menjajaki panggung piala dunia, Barrabravas dan negara-negara Amerika Latin mampu mencetak pemain-pemain kelas dunia. Lalu adakah hubungan antara perdamaian suporter sepakbola dengan kemajuan sepakbola negeri? Saya rasa tidak ada, tidak ada relevansi antara keduanya.

Perdamaian ini berlanjut lagi di Indonesia dengan trend koalisi suporter. Suporter tamu yang datang ke kandang klub diberi nyanyian saudara, banyak kaos-kaos yang mengatasnamakan persaudaraan suporter bermunculan tercetak. lebih gila lagi, ada syal dengan sebelah warna. Sebelah warna klub kebanggaannya, sebelah lagi warna klub yang suporternya dianggap saudara. Atau mau lebih gila lagi, menggunakan kaos dengan warna klub saudaranya, datang ke stadion melihat laga klub yang dia sukai. Apakah persaudaraan membunuh kebanggaan?

 Menjadi suporter sepakbola adalah perkara berdiri dan bernyanyi mendukung klub yang dicintai berlaga, urusan persaudaraan dan sebagainya adalah urusan pribadi yang tidak layak dibawa ke wadah umum.