Senin, 08 November 2010

Practice Makes Perfect

"Jika ini berhasil, aku akan jadi pesulap dengan trik kartu paling mutakhir tanpa rekayasa." (Girgir Hutagalung)

Dini hari sudah saatnya tidur karena fisik sudah lelah. Saya dan beberapa kawan saya sukarelawan memilih ruang UKS untuk beristirahat kali ini. Sambil membuka netbook untuk menyetel lagu pengantar tidur, kawan saya Girgir Hutagalung malah mengambil satu deck kartu remi. Ia mulai mengocok kartu itu sambil menyuruh Ragil memikirkan satu kartu. Ketika Ragil sudah memutuskan, Girgir berhenti mengocok kartunya dan mengambil kartu teratas, "Ini bukan?" Tentu saja jawabannya bukan, kartu teratas yang diambil Girgir bukan kartu yang dipikirkan Ragil.
Kejadian yang sama diulang dengan Vito, GoGik, dan Saya. Hasilnya masih salah. Di akhir permainannya pada saya, Girgir berkata, "Suatu saat pasti berhasil."
Kami semua diam, dan mulai mengambil posisi untuk tidur, tapi tidak bisa.
Nice Try Dude.

Barak dan Kartu

"Mas, ayo melu maen kertu." (Mas, ayo ikut main kartu - Rofik)
"Ho'oh mas, ayo melu." (Iya mas, ayo ikut - Rofi'i)

Status "awas" pada Merapi masih belum turun satu tingat pun. Zona aman juga belum turun dari sebelumnya. Masyarakat masih saja was-was dan masih enggan untuk kembali. Barak-barak pengungsian masih penuh dengan pengungsi dan juga sukarelawan (saya enggan menyebutnya relawan, rasa-rasanya kurang unsur "suka" dan "gembira"). Kepedulian tampak dimana-mana dan ini baik.
SMA saya dulu bersekolah, SMA Kolese John de Britto tak ketinggalan, jajaran direksi membuka posko bantuan logistik dan barak pengungsian. Barang masuk dan keluar tiap waktunya dan menyita tenaga sukarelawan baik dari siswa maupun alumni bahkan guru-guru dan para karyawan. Kepedulian tak habis-habis. Sukarelawan juga mengurusi 150-an pengungsi yang bertahan di aula SMA. Dapur umum dibuat.
Kesibukan disana-sini, jelas kelelahan yang menyikapi. Lelah, benar lelah fisik dan psikis bagi sukarelawan di posko manapun, tapi bagaimanapun juga ini urusan tolong menolong dan tidak perlu urusan mengeluh dan tetek bengek sejenisnya. Di tengah mondar-mandir antara barak dan posko, saya dan beberapa kawan alumni de Britto melewati anak-anak pengungsi yang sedang menggelar tikar di lapangan futsal outdoor sekolah kami, saya lihat mereka bermain kartu. Permainannya standar bibit penjudi - minuman-. Mereka kami tahu bernama Rofik dan Rofi'i, kelas 2 SD. Mereka memanggil kami dan mengajak kami bermain kartu, menemani mereka. Awalnya kami semua berpikir untuk meng-iya-kan ajakan mereka karena kami berpikir mereka butuh teman untuk menghabiskan waktu dan membunuh trauma mereka akan abu Merapi dan kami segera duduk melingkar bersama mereka berdua.
Kepolosan mereka segera dipadu dengan ketotolan kami yang alami menghasilkan kolaborasi kebrisikan yang ekstrim. Ada jajaran direksi yang melewati kami dan tersenyum, saya paham kalau beliau berpikir ini semata-mata untuk hiburan para pengungsi dan hal ini sungguh sah. Permainan terus berlanjut hingga kira-kira 1 jam ke depan sampai Rofik bertanya pada kami, "Mas, nek ngguyu-ngguyu ngene ki kesel e ilang to? Aku mau mesakke ndelok njenengan kesel tenan ketoke, makane aku karo Rofi'i ngundang dolanan kertu." (Mas, kalau ketawa-ketiwi gini capeknya hilang kan? Saya tadi kasihan melihat kalian kelihatan capek sekali, makanya saya dan Rofi'i manggil mainan kartu).
Kami semua diam dan berpandang-pandangan. Siapa menghibur, siapa terhibur? Siapa peduli :)

Sabtu, 06 November 2010

es kopi dari ibu

"Sing penting lila legawa jembar donya akherat." (Setodewo)

Kopi sepertinya sudah jadi bagian dari hidup saya selama ini. Walaupun saya masih rutin minum susu tiap malem, tapi kopi juga jadi menu utama keluarga kami. Berkumpul di ruang tamu bareng ayah ibu saya, sambil ngerokok dan minum kopi kami bertiga sering menikmati dinamika sosial di televisi sambil juga cerita satu sama lain tentang keseharian yang dijalani masing-masing. Kami menikmati kopi kami, kami menikmati keseharian kami. 
Tempo hari (Kamis, 4 November 2010) kami berkumpul lagi, ayah saya pulang kerja dan ibu saya selesai memberi susu pada anjing-anjing kami, saya sendiri pulang dari pengungsian. Jogja sudah penuh suara gemuruh dari puncak Merapi dan kami semua masih memantau lewat televisi dan streaming radio bersama rokok kami masing-masing. Anjing-anjing kami mulai menggonggong kepanikan, ayah saya sibuk memantau suara puncak Merapi. Saya juga mulai panik, mengambil tali untuk anjing saya dan memasangkan pada mereka untuk persiapan jika sewaktu-waktu harus lari menjauh.
Ibu saya tidak ambil pusing kala itu, setelah rokok pertamanya habis, dia bangun dan membuatkan kopi untuk kami. Kali ini kopi dingin. Setelah selesai, kami meminum kopi kami. Ayah saya heran kenapa kali ini kopi dingin. Ditanya begitu ibu saya menjawab, "Hari ini kita minum dingin dulu, sudah terlalu panas kita dan sekitar kita."
Saya dan ayah saya diam dan lanjut nonton tivi dengan santai, ibu saya bermain dengan kedua anjing saya.


Rabu, 03 November 2010

sesederhana datang pagi lalu matahari tenggelam lagi

hidup itu sederhana, kita memilih dan tak boleh menyesalinya.(tokyo drift)

Seringkali saya mendapat curhat dari kawan-kawan saya, tentang pacar mereka, tentang kuliah yang sulit, tentang apapun yang membuat hidup mereka sulit. Saya hanya dapat memberi mereka masukan. Yah, bukan berarti hidup saya juga telah sempurna, hidup saya juga penuh masalah tantangan dan saya mencoba melaluinya tiap hari. Banyak kawan saya juga yang berkata, "enak ya jadi kamu, ga mikirin apa-apa." Enak saja mereka berkata, saya juga berpikir. Rene Descartes pernah bilang, "cogito ergo sum." Kamu berpikir maka kamu ada. Saya berpikir, tapi yang saya pikirkan adalah sesuatu yang baik untuk saya, saya malas menyiksa diri saya dalam pikiran saya sendiri yang nanti akan merugikan saya sendiri.
Semua memang dimulai dari kita, dari pikiran kita.
Kita sudah memilih jalan kita sendiri, kita sudah memilih dari sekian banyak pilihan yang ada. Kalau begitu ya sudah jalani. Kenapa masih harus berdebat lagi dengan diri sendiri kalau yang kita pilih itu ternyata salah. Sudah memutuskan punya pacar, sudah memutuskan kuliah di jurusan apa, sudah memutuskan ga makan, ga eek. Ya semua itu ada resikonya. Jalani, sambil berpikir kalau yang kamu jalani adalah menyenangkan. Dan kenyataan akan menyenangkan.


Selasa, 02 November 2010

kawan yang setia

saya suka sekali dengan binatang, konon lelaki penyayang binatang itu lemah lembut sekaligus kuat :)


Cobalt, anjing mix daschund dan pomeranian

 Herro, dari kata Heroin, anjing Golden Ret

Carcoal, Bajing Terbang yang saya selamatkan dari pasar hewan

Aska, Kelinci Dwarf seukuran asbak untuk teman di kos

Dega, Musang Rasse yang saya selamatkan juga dari pasar hewan

Mimi dan Mintuna, Bajing Kelapa yang masih bayi

Berlomba dengan Senja

aku datang menantang ombak.

roda ini masih melaju deras,
waktu mau tak mau memaksaku untuk bertahan melaju kencang.
matahari tanpa basa basi melenggang turun dari tahta siang.
aku mengejar, lebih tepatnya terkejar.
sebuah keinginan untuk melihat lagi senyumnya sebelum matahari terbenam.

aku masih bertahan keras,
tekad mau tak mau memaksaku untuk terus maju berperang.
perasaan tanpa basa basi memuncak untuk melawan bayang.
aku bertahan, lebih tepatnya tertahan.
sebuah keinginan untuk tak melihat tangisnya sebelum harapan tenggelam.

Setiap kali merahnya merah memerahkan kemerahan

Setiap kalimat membentuk baris sanjungan.
Setiap aksi membulatkan langkah harapan.

-kursi dan kursi merah mulai ditata rapi.
Wadah dan wadah plastik merah dijungkir balikkan.

Setiap kepulan asapmu membawa bayang.
Setiap bayangmu mengepul yg tak pasti.

-busa dan busa merah menati untuk direbah.
Selimut dan selimut merah menunggu fungsinya yg tak tentu.

Setiap gerakmu membunyikan derit pintu.
Setiap bunyimu menggerakkan aku.

-mata dan mata merah tumpah.
Lelap sebentar bersama sunset.

Setiap senja untukmu slalu isyaratkan pesan yg tenggelam.
Tenggelam bersama isyarat yg terlalu merah,kamu tak bisa,ak binasa.

//Aku seperti celana dalam//